Guruku, Energiku

Aku masih duduk di bangku yang sama. Dengan teman sebangku yang sama. Tepat di meja paling depan berhadapan dengan meja guru. Suasana terasa mencekam. Tidak ada yang tertawa. Semua tampak memanjatkan doa dalam batin mereka. Tangan-tangan memeluk diri mereka sendiri. Berlindung pada kesendirian dan kesepian.

Seorang laki-laki memakai safari biru duduk di depanku. Pak Yanto wali kelasku tercinta. Tatapannya tajam mampu menembus korneaku. Tetapi lembut melindungi. Aku merasa tenang dengan tatapan lembutnya. Tetapi Terlalu tajam. Setajam pisau dan kapak yang baru diasah. Tatapan itu tidak asing buat kami. Dulu aku pernah menyaksikannya. Ketika kami tidak mengerjakan tugas sekolah dengan baik. Ketika diantara kami ada yang masuk sebagai TO oleh kepolisian daerah menyangkut pemakai dan pengedar narkoba. Tatapan itu juga terlihat ketika banyak rumor di masyarakat, beberapa siswi di SMA kami selain mempunyai sambilan bersekolah juga bekerja sebagai call girls. Tatapan itu berarti memberikan sinyal bahwa ada yang tidak beres dengan kami. Apakah ada yang tidak lulus di antara kami?.Batinku.

Tidak. Aku harus berpikir positif. Seperti yang di ajarkan Pak Yanto ketika bercerita tentang Thomas Alfa Edison. Ketika Edison berhasil menemukan Lampu head line sebuah surat kabar menulis “ Setelah 9.955 kali gagal membuat lampu menyala, Akhirnya T.A.Edison berhasil membuat lampu menyala”. Karena beliau selalu berpikir positif, beliau tidak cocok dengan apa yang di muat di surat kabar tersebut akhirnya beliau menuntut untuk diganti. Keesokan harinya head line surat kabar tersebut berubah menjadi “Setelah 9.955 kali berhasil membuat lampu gagal menyala, Akhirnya T.A.Edison berhasil membuat lampu menyala”. Pasti tidak ada apa-apa. Semua pasti lulus. Kita masuk sekolah ini sama-sama keluar juga harus sama-sama.

Udara mengalir menyentuh sisi rambutku yang terurai sebahu. Menunjukkan kasih dengan belaian lembut. Sinar surya memancar menembus kaca jendela membias menemani udara menghangatkan diriku. Dua orang dihadapanku tersenyum untukku dalam sebuah pigura yang menempel pada dinding kusut berumah laba-laba.

Pak Yanto kelihatan gelisah. Keningnya mengerut. Lebih mengerut dari biasanya. Selama beberapa tahun terakhir ini Beliau tampak lebih tua. Lebih tua dari usianya. Beliaulah yang masih tetap komitmen dengan SMA ini. Beliaulah yang masih bertahan di SMA ini. Dulu SMA ini sangat favorit di banding SMA swasta lainnya. Gedungnya sangat megah dengan empat lantai. Mampu menampung lebih dari seribu siswa. Tetapi setelah adanya pengurus yayasan yang korup, banyak siswa terjaring razia narkoba, tawuran, dan adanya wanita panggilan yang bersarang di SMA ini. Sekolah ini menjadi ambruk total. Seperti penggusuran rumah sengketa tanah. Tidak ada yang tersisa. Banyak wali murid yang menarik anak-anak mereka dari sekolah ini. Dan hanya sedikit sekali yang mendaftarkan anak-anak mereka di SMA ini. Kepercayaan orang tua murid hilang dari SMA ini. Sekarang tinggal kami ber-dua belas yang masih bertahan di sekolah ini. Termasuk aku. Adik kelasku tinggal sembilan belas anak. Kelas XI ada sepuluh siswa dan kelas X ada sembilan siswa.

Tidak hanya siswa yang meninggalkan sekolahan. Guru-gurupun ikut meninggalkan sekolah. Mereka bilang soal kesejahteraan dan sekolah ini tidak ada prospeknya. Badai menghinggapi SMAku. Meremukkan sistem sistematik. Sempat pihak yayasan akan menjual gedung dan semua propertinya. Serta menutup sekolahan. Tetapi dengan perjuangan Pak Yanto dan beberapa guru yang lain sekolah ini tetap exist. Pak Yanto tetap semangat mengabdi untuk SMA ini. Jabatan beliau merangkap semuanya yaitu sebagai waka kurikulum, wali kelas, guru fisika, guru ekonomi, guru matematika, guru olah raga dan guru seni budaya. Walaupun beliau hanya lulusan sarjana pendidikan fisika dari UNNES. Beliau berusaha belajar melakukan semuanya karena sekolah kekurangan tenaga pendidik. Jadi setiap hari dalam segala urusan kami selalu berhubungan dengan beliau. Dan kamipun dekat dengan beliau.

Di tangan pak Yanto terdapat beberapa amplop. Isi dari amplop itu adalah hasil belajar kami selama tiga tahun terakhir. Pak Yanto sedikit berbasa-basi dengan memberikan sedikit prolog. “ Saya ucapkan selamat kepada anak-anakku tercinta yang telah menyelesaikan pendidikan ini, bagi anak-anak yang tidak lulus jangan berkecil hati masih ada kesempatan”.

Jantungku berdebar tidak sabar untuk membuka hasil kelulusanku. Pak Yanto mulai memanggil nama anak satu per satu untuk maju dan menggambil amplop yang berisi hasil kelulusan. Aku masih penasaran dan semakin degdegkan.

Semua temanku sudah menerima amplop dari pak Yanto. Mereka semua berteriak riang gembira. Melonjak-lonjak, sujud syukur. Termasuk teman sebangkuku. Namaku di panggil pak Yanto dan segera keluar dari mejaku munuju sumber suara yang memanggil namaku. Diserahkan amplop itu padaku. Sembari kembali ke tempat dudukku, aku mencoba membuka amplop itu. Kucoba pelan-pelan memisahkan lem yang merekatkan amplop dengan penutupnya. Tetapi karena aku tidak sabar ingin melihat hasil kelulusanku maka amplop itu aku sobek pada bagian ujung amplop.

“ Kreeeekkkkkkkkkkkkk”.

Dan aku buka lipatan surat itu. Dan aku baca dalam hati.

Nama : Lintang Kurniawati

Kelas : XII-IPS1

Sekolah : SMA Dharma Bhakti

Memperoleh nilai hasil Ujian Nasional sebagai berikut :

No Mata Pelajaran Nilai UN
1. Bahasa Indonesia 5.40
2. Bahasa Inggris 5.50
3. Matematika 5.50
4. Ekonomi 5.50
5. Sosiologi 5.50
6. Geografi 5.50
Jumlah 32.90
Rata-rata 5.48

Karena nilai rata-rata semua mata pelajaran tidak mencapai 5, 50 maka saudara dinyatakan TIDAK LULUS.

Kepala sekolah.

“Deg” suara jantungku dan detakkannya cukup keras sampai dadaku tersentak menyembul dari dalam rongga dadaku.. Sejenak seakan jantungku berhenti berdenyut, Seluruh tubuhkupun membisu. Tidak ada aliran darah. Waktu berhenti berdetak. Matahari tidak bergerak. Bumi berhenti berotasi. Aktifitas pasarpun ikut mampet. Aku tidak percaya. Aku menghampiri dan menanyakan kepada Pak Yanto apakah ini benar. Aku tidak lulus?.

“ Menurut PERMENDIKNAS No.77 pasal 14 : Peserta UN dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan UN salah satunya memiliki nilai rata-rata minimal 5,50. Sedangkan nilai rata-ratamu kurang dari 5,50. Dengan berat hati kamu dinyatakan tidak lulus. Tapi….”

Sebelum Pak Yanto menyelesaikan jawabannya aku langsung keluar dari ruangan. Kebahagiaan teman-temanku agak sedikit terhenti ketika mengetahui aku tidak lulus ujian nasional tahun ini. Air mata mengalir membasuh sedikit make up di pipiku. Hinggap sampai menyentuh lipe ice pelembab bibirku. Aku takut. Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku bingung. Aku berlari berhenti di kamar mandi siswa bagian wanita. Aku masuk dan mengunci rapat-rapat.

Ayah pasti akan membunuhku. Anak kepala desa kok tidak lulus. Aku malu sama teman-temanku, teman dekatku, Guru-guruku, Pak Yanto, keluargaku.

Aku sudah belajar mati-matian. Dari pagi hari hingga larut malam. Ikut program bimbingan intensif di lembaga bimbingan belajar. Pengayaan dari guru-guru. Trus apa yang ku dapat….

Teman-teman yang lain tidak belajar sama sekali mereka malah lulus semua…

Ini ga fair…………

Dunia ini tidak adil…..

Selisih angka 0,02 merusak hidupku

Kenapa aku?

Kenapa mesti aku yang tidak lulus?……

Aku salah dan aku kalah.

Aku tidak kuat menanggung rasa ini. Aku tidak kuat.

Air mataku semakin jatuh mengalir dari sungai kesedihanku. Aku bingung. Aku tidak mau pulang. Aku takut. Aku keluar dari kamar mandi dan berjalan menaiki tangga menuju ke atap. Aku masih mendengar teriakan kelegaan dan kebahagiaan teman-temanku. Langkah-langkah lemas membawaku sampai ke atap gedung bertingkat empat ini.

Aku sedikit merasa lega. Aku selalu ke tempat ini bila hatiku lagi sedih. Menatap bebas angkasa. Terlihat di arah utara berduyun-duyun awan mencoba menyelimuti kesedihanku. Ada juga bintang yang berkelip kecil padahal mentari masih sombong dengan berkas sinarnya, aku merasa bintang itu adalah bintang hidupku yang mencoba menghiburku. Di arah selatan aku dapat melihat jelas laut selatan. Mutiara dan berlian murni memenuhi lautan itu memantulkan keperkasaan surya dari serangkaian reaksi fusi.

Aku masih belum percaya melintasi kejadian ini. Apakah komputer yang mengkoreksi lembar jawabku salah. Kenapa pemerintah menggunakan sistem UN?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dalam pikiranku. Dan semakin menguasai diriku. Aku mulai merasa pusing dan sedikit mual. Kepalaku terasa berat. Seperti ada beban timbangan satu kwintal di dalam tempurung kepalaku.

Aku ingin mengakhiri ini. Aku tidak sanggup untuk menanggung malu. Aku tidak berguna lagi. Ujian sekolah saja aku tidak lulus. Bagaimana nanti aku menghadapi ujian hidup?Aku tidak kuat. Aku berjalan mendekati pinggir gedung. Aku berpegangan pada pagar pembatas terbuat dari besi dan berukuran sekitar 1,5 meter dan menatap ke bawah. “uh”. Aku terkejut ternyata tinggi sekali. Kata Pak Yanto “ Semakin tinggi kedudukan suatu tempat dari permukaan bumi maka semakin tinggi pula energi potensialnya”. Energi potensial dari tempat ini cukup untuk mengakhiri kehidupanku. Aku memanjat dan memposisikan diriku duduk di atas pagar pembatas. Aku sedikit takut. Aku bertumpu dengan kedua kakiku dan kedua tanganku membelakangi pagar pembatas.

Angin saat ini sangat kencang. Membawa terbang debu-debu lantai dan rambutku. Aku terpeleset. Sepatuku terlalu licin dan meninggalkan kaki kananku. “Buk”. Suara sepatuku mendarat di lapangan basket halaman sekolah. Tanganku masih berpegangan kuat dipagar pembatas itu. Ku kembalikan posisi kakiku bertumpu pada pagar.

“Lintang, menjauh dari situ” Teriak Wulan dari halaman sekolah. Persis di bawah lintang duduk di puncak gedung. Tidak lama kemudian semua teman-teman yang lain keluar dari ruangan menuju halaman.

Sambil berteriak-teriak “ Lintang’ menyingkir dari situ”.” Bahaya”.

Beberapa Siswa Bergerombol membentuk formasi tertentu dengan menyatukan tangan-tangan mereka. Seperti yang di ajarkan di pramuka.

“ Lintang’ menyingkir dari situ”.” Bahaya”. Beberapa guru dan staf karyawan ikut bergerombol melihat aksiku.

“Lintang”. Aku menoleh ke belakang mencari sumber suara. “Pak Yanto”. Jawabku singkat. “Jangan mendekat,Pak. Kalau Bapak mendekat Aku loncat.”.

“Ini bukan akhir dari segalanya, Lintang”.

“Masih ingat cerita tentang sepeda”. Aku menggangguk pelan.

“Ketika kamu belajar naik sepeda dulu kamu pasti tidak langsung bisa, kamu akan jatuh, jatuh dan jatuh lagi, baru kita bisa mengendarai sepeda dengan sukses. Dan ingat ketika kita jatuh, ketika kita salah, ketika kita kalah merupakan proses belajar yang akan membawa kepada kesuksesan. Jadi jangan sampai menyerah begitu saja. Gunakan kekalahan untuk semangat menuju kemenangan. Ayo pergi dari tempat itu dan kita segera turun. Masih ada ujian paket C dan itu bisa berlaku untuk kuliahmu nanti”. Aku merasa ada pengisian energi pada jiwaku. Aku merasa lebih hidup. “Baik, Pak”. Jawabku.

Aku membalikkan badan untuk segera menghindari tempat yang berbahaya itu. Aku bertumpu dengan kakiku dan tanganku. Aku berbalik ke arah kiri dengan mengangkat kaki kananku. Aku bertumpu dengan kaki kiri. Tetapi aku terpeleset karena kaos kakiku terlalu licin dan genggaman tanganku lepas. Aku terjatuh dari ketinggian 8 meter.

“Bruouuuk”

ф ф ф ф

5 tahun kemudian

“Selamat pagi Anak-anak”

“Selamat pagi Bu guru”

“ Hari ini akan ibu ceritakan sejarah singkat Sekolah ini. Dulu ada seorang siswi mencoba bunuh diri terjun dari atap lantai 4. Ketika dia terjatuh tangannya tak sengaja memegang kabel antena radio. Anak itu tersangkut. Kabelnya tidak kuat, Anak itu terseret ke bawah bagian lengan kanannya bergesek dinding. Kabelnya putus dan dia terlepas jatuh ke lantai. Anak itu selamat karena energi potensialnya berkurang dari ketinggian 12 meter menjadi 4 meter. Hanya ada luka gores di lengan dan memar di daerah kepala dan kaki. Setelah itu dia bangkit. Dia bangkit dengan semangat gurunya. Dia bangun dari mati surinya. Dia belajar dengan rajin. Akhirnya lulus ujian paket C. Tidak hanya itu dia juga ikut tes beasiswa di beberapa universitas. Tetapi tidak ada satupun universitas negeri yang mau menerima. Tetapi dia diterima di universitas swasta dibidang broad casting di Yogyakarta. Dia lulus cume loude hanya membutuhkan waktu 3,5 tahun. Kemudian mengabdikan diri di Yayasan Dharma Bhakti. Kemudian yayasan menambahkan SMA Dharma Bakti dengan membuka SMK Dharma Bhakti dengan membuka jurusan broad casting. SMK kita ini mempunyai Studio Radio Dharma Bhakti FM 102,02 FM radio pendidikan pertama di kota kita. Dengan berbagai donatur dan bantuan dari pemerintah. Sekarang SMK kita sedang dalam proyek finishing yang nanti akan menjadi proyek percontohan bagi sekolah-sekolah lain yaitu mempunyai stasiun TV sendiri. “

“Hanya orang-orang kalah yang mau menyerah”

“Gunakan kekalahan untuk semangat menuju kemenangan.”

Tepuk tangan kecil terdengar dari luar ruangan. Sosok berseragam safari biru berdiri di sana.

“Bu guru keluar sebentar ya!”

“Ya, Bu.” Jawab para siswa.

“Lintang Kurniawati, S.T. Terima kasih kamu sudah memberi energi untuk sekolah ini. Sekarang masyarakat sudah percaya pada sekolah kita. Saya bangga padamu”. Ungkap Pak Yanto.

“Semua ini hasil kerja keras Bapak Kepala Sekolah sendiri, terima kasih kembali Pak”

Jawab lintang.

Sambil tersenyum Pak Yanto meninggalkan aku di depan pintu kelas.

“Aku bahagia sekali. Setelah tujuh tahun terakhir, baru hari ini aku melihat Pak Yanto tersenyum bening.”

“Terima kasih guruku. Terima kasih guru kehidupanku. Guruku, energiku”

Tentang Penulis


Widayanto lahir di Sragen 3 Oktober 1984. Menyelesaikan massa putih abu-abu di SMA 3 Sragen. Sekolah ini memberi sumber energi inspirasi. Tidak cocok dengan kegiatan Pramuka akhirnya bersama-sama teman SMA membuat komunitas sendiri di sekolah. “Pijak” ( Pencari Jejak Alam Khatulistiwa). Selain mencintai dunia petualangan, aktif juga dalam dunia musik. Sejak SMU dengan menggandeng “piccasso Guitar” ikut menampilkan dan meramaikan pertunjukan musik di Tanah Air. Kebiasaan main musik terbawa sampai kuliah di Universitas Negeri Semarang jurusan pendidikan fisika. Bermacam prestasi menghiasi kehidupan musiknya. Penampilannya yang gondrong dan nge-Rock sempat diprotes dosen yang mengatakannya tidak pantas menjadi seorang guru fisika.

Pernah mengalami massa sulit dan kegagalan. Dipecat dari sekolah tempat mengajar karena mendaftarkan diri sebagai CPNS. Dari kegagalan ini muncul energi lebih ganas untuk menuju kebebasan dan kesuksesan. Sekarang tercatat sebagai guru fisika di SMP swasta, guru privat dan sebagai fasilitator di PMI ( Palang Merah Indonesia) cabang Cilacap.

Kebiasaan menulis lagu membuat energi tambahan untuk menciptakan karya-karya yang dapat diterima dan dinikmati oleh masyarakat luas. Waktu luang yang ada di gunakan untuk menulis cerpen, lagu dan novel. Kritik dan saran sangat ditunggunya di widayanto84@gmail.com.

3 Tanggapan to “Guruku, Energiku”

  1. OmAdi belajar internet Says:

    Pertamax….
    komen dulu baca belakangan.
    He…gud jobs bro.
    Keep posting.:D

  2. ery Says:

    so inspired
    Aku jadi ingin memeluk penulisnya….

  3. lintang Says:

    wahaha LINTANG


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: